Rabu, 13 April 2011

DUNIA DALAM PIKIRANKU

OLEH : RIZAL AHMAD
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)
Begitu tingginya kedudukan pikiran dalam dunia ini. Langit dan bumi yang merupakan ruang. Malam dan siang yang merupakan waktu. Itu akan menjadi tanda-tanda bagi orang yang menggunakan pikirannya. Abstraksi dari ruang dan waktu yang ada di luar pikiran, sehingga masuk dalam relung akal. Terjemahan dari sesuatu yang belum ada makna menjadi lebih bermakna. Sesuatu yang masih mitos, akan menjadi logos. Itu semua ketika kita bisa mengoptimalkan anugrah Alloh yang unik ini –karena hanya dimiliki oleh manusia saja – sehingga hidup kita dapat bermakna dan menemukan hakekat dari hidup itu sendiri. Hidup yang merupakan pengembaraan manusia menuju Dzat Pencipta Yang Maha Indah. Lepas dari ruang dan waktu. Luas dan kekal.
Dunia ini bergerak dalam ruang dan waktu. Tapi hakekatnya, dunia ini sedang memberontak dari ruang dan waktu. Bergerak, bergerak, bergerak menuju kemanakah ia? Apakah hanya berputar-putar saja sehingga hakekatnya adalah ia tidak bergerak karena tidaklah ada kemajuan ia dalam bergerak karena kembali lagi ke posisi semula? Bergerak kemanakah ia? Hahekatnya adalah bergerak melepaskan diri dari ruang dan waktu. Menerobos ruang dan waktu. Sehingga tidak ada lagi ia, ia bukan ruang dan ia tidak memberikan ruang kembali. Tidak ada lagi sekarang atau nanti semenjak itu, yang ada hanya kekekalan. Kecuali Yang Maha Berkehendak menghendaki lain.
Abstraksi, dikatakan alat yang paling ampuh untuk menerjemahkan dunia, karena dunia yang dikatakan tadi bergerak dalam ruang dan waktu. Alat apa itu? Bagaimanakah cara ia bekerja? Lalu apa manfaatnya bagi dunia? Bagi manusia? Alat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran. Pikiran yang dengan usahanya ia dapat menerjemahkan dunia, tapi hanya sebagian saja, perlu diingat bahwa manusia adalah terbatas, terbatas pun dalam pikirannya. Hati, ada elemen-elemen yang merupakan elemen hati, tapi bukan elemen pikiran, bahasa matematikanya. Ada elemen yang tidak bisa dijangkau pikiran, salah satunya adalah keyakinan.
Pikiran dan kenyataan. Di luar pikiran adalah sebagian kenyataan. Ada beberapa contoh hal yang nyata yang dapat diterjemahkan sehingga ia naik masuk dalam pikiran. Warna, warna-warna indah jika masuk dalam pikiran akan memunculkan persepsi-persepsi yang beragam bahkan seperti merupakan kesepakatan karena kelumrahannya. Misalnya merah, menandakan keberanian. Lalu masuk dalam symbol-simbol, baik sekup kecil, sampai besar, dari individu sampai Negara, dari lambing sampai bendera. Seluruhnya diusahakan memiliki filosofi tersendiri. Sesuatu yang diterjemahkan akan merubah mitos menjadi logos. Ia nyata, tapi memiliki makna. Pun sebaliknya, hal sederhana didalam pikiran diterjemahkan dalam kenyataan. Titik, dalam pikiran ia titik, diterjemahkan oleh pikiran itu sendiri menuju kenyataan menjadi bentuk-bentuk yang banyak. Dari titik menjadi garis, dari titik menjadi persegi, dari titik menjadi segi banyak, dari titik menjadi bangun ruang, dari titik menuju banyak bentuk bahkan pikiran pun tak mempu menjangkaunya.
Lalu bagaimana dengan kurva normal? Dengan data? Dengan adat istiadat? Adakah hubungannya? Ya, yaitu saling menerjemahkan. Penggunaan kata analog yang menjadi mediator antar pikiran dan kenyataan. Saling menerjemahkan seperti apa? Misal kurva normal, di dalam adat istiadat jawa, daerah yang ditengah adalah harapan dari sebagian besar warga jawa. Menginginkan dirinya normal, tidak jauh berbeda dengan orang lain. Ia tidak mau lebih dan tidak mau kurang. Bahagia kata mereka. Dari “berapa” menuju “apa”.
Lalu apa saja yang ada dalam pikiran? Himpunan pikiran meliputi a priori, kategori, transenden, logika sedangkan himpunan kenyataan adalah pasangan-pasangannya. Himpunan kenyataan itu berturut-turut adalah a posteiori, sintetik, material dan pengalaman.
Wallohu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar