Oleh : Rizal Ahmad
Filsafat sangat berperan penting dalam proses pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika. Karakter dari filsafat itu sendiri yang membuat filsafat berperan dalam proses pembelajaran matematika. Peran filsafat itu adalah pada dampak dari seseorang berpikir filsafat. Berfikir filsafat yang membuat seseorang berpikir kritis. Sedangkan berpikir kritis sangat dibutuhkan oleh seorang pembelajar, termasuk didalamnya adalah dalam proses pembelajaran matematika yang membutuhkan ketelitian, keuletan, kesabaran, dll. Sehingga berpikir kritis berperan disana.
Para penemu rumus-rumus canggih tidak mungkin ia akan menemukan sesuatu hal yang baru kecuali ia telah melakukan hal yang berbeda. Berpikir kreatif yang dasarnya adalah berpikir kritis. Para penemu atau ilmuan melakukan penelitian-penelitian terhadap hal yang telah ada yang telah dirumuskan oleh para ilmuan sebelumnya. Ia kaji dan mengkritisi teori tersebut sehingga menemukan kejanggalan dari teori-teori yang dikemukakan, kemudian membuat sesuatu yang lebih relevan dan kontekstual dengan zamannya sehingga muncullah teori atau rumus baru yang bermanfaat bagi kehidupan. Itulah buah dari berpikir kritis.
Belajar memahami sesuatu dengan cara yang tidak dipahami. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, siswa SD, SMP, maupun SMA di kebanyakan sekolah biasanya hanya diberikan rumus dari suatu teori kemudian siswa gunakan dalam contoh-contoh soal dan latihan-latihan soal. Siswa diminta menghafal rumus yang telah diberikan tadi, tanpa mengerti dari mana rumus itu didapat. Dengan demikian siswa dibelajarkan mengerjakan sesuatu yang belum ia pahami. Hal ini menurut saya adalah suatu hal yang berbahaya jika tidak ada tindak lanjutnya bagi sebagian siswa yang memiliki kemampuan belajarnya yang rendah. Bagi siswa yang kritis, tidak begitu bermasalah, bahkan hal tersebut dapat menjadi tantangan baginya untuk menemukan asal muasal suatu rumus yang ia gunakan untuk mengerjakan suatu permasalahan matematika. Bagusnya lagi jika ia menemukan hakekat dari suatu rumus itu dengan sikap kritisnya.
Mengeluh. Kebanyakan dari siswa jika diberikan soal-soal atau tugas persoalan matematika yang banyak dan dibutuhkan waktu yang ia perkirakan akan lama serta terdapat suatu perhitungan yang rumit, maka tanggapannya adalah sebuah keluhan. Pertanyaan yang sering muncul adalah “kok kami mendapat soal sebegitu banyaknya?”. Kesalahan pada sikap siswa dalam menerima suatu persoalan diatas. Belum diberikan persoalannya saja sudah menjadi persoalan baginya yaitu para siswa yang suka mengeluh. Berbeda jika siswa diajak atau sudah mengenal berpikir filsafat. Siswa akan merasa senang jika ia mendapati bahwa gurunya memberikan tugas yang banyak. Siswa demikian menjadikan persoalan-persoalan tersebut merupakan suatu tantangan yang harus ia selesaikan dan lalui karena disetiap tantangan akan ada perbaikan dan peningkatan kualitas diri. Sehingga buahnya adalah persoalan selesai dan ia mengerjakannya dengan penuh rasa senang. Berbeda dengan siswa yang suka mengeluh, meski persoalan yang diberikan selesai, ia tidak akan mendapati hikmah yang terkandung disana dan ia tidak akan mendapati suatu pembelajaran disana disamping yang ia dapati adalah rasa kesal dan terbebani. Sebagai contoh kongkritnya, ada seorang guru filsafat saya di UNY, beliau mengajar beberapa mata kuliah di jurusan pendidikan matematika termasuk didalamnya adalah filsafat pendidikan matematika. Terlihat sekali dari pembelajaran yang beliau bawakan berbeda dari guru yang lain. Pembelajaran yang berusaha memanfaatkan setiap media yang ada sesuai konteksnya, terutama adalah tugas membuat tulisan ini yang dipostingkan di blog, memberikan komen pada tulisan-tulisan beliau yang cukup banyak, dan banyak lagi. Intinya pembelajaran yang kreatif yang muncul disana. Dan terlihat dari pembawaannya, tidak pernah terlihat mengeluh patah semangat dalam mengajar. Adapun jika mengalami hal demikian, ia ungkapkan dalam bentuk tulisan-tulisannya yang diwajibkan para mahasiswa memberika komennya sehingga muatan-muatan kritikan disana kami segera menyadarinya. Singkatnya ialah selalu ada saja solusi bagi orang yang berpikir sehingga pembelajaran pun akan dinamis. Dan jika hal ini dikembangkan kepada tindakan-tindakan, bukan hanya pemikiran-pemikiran saja, terutama oleh para guru akan membuat pembelajaran akan semakin dinamis dan tidak membosankan atau pada titik kejenuhan yang terbawah.
Berputus asa. Soal yang sulit dan membutuhkan perhitungan yang cermat membuat siswa yang kritis merasa tertantang. Berbeda dengan siswa yang tidak kritis, ia akan menyerah terlebih dahulu.
Tumbuh dan berkembang. Siswa yang kritis akan tumbuh dan berkembang secepat sikap kesehariannya dalam menghadapi suatu permasalahan. Sikapnya yang selalu mengevaluasi kebenaran dari suatu permasalahan baik dalam diri maupun diluar dirinya membuatnya akan selalu mencari mana yang paling baik yang harus ia percaya dan kerjakan. Demikian seterusnya sampai ia tidak akan menemukan suatu permasalahan lagi di dunia dengan kata lain sampai permasalahan, hanya akan diselesaikan di timbangan akhirat yang adil.
Terbudayakannya gemar membaca. Menggapai berpikir filsafat tidak mungkin jika tidak membaca, terutama membaca pikiran-pikirannya para filsuf. Terutama jika kita dapat mengkontekskan dengan keadaan saat ini, yaitu dapat membaca alam dan keadaan saat ini. Ini merupakan kulit, yaitu manfaat dari metode menggapai hakekat membaca, termasuk membaca pikiran-pikirannya para filsuf. Maksudnya adalah yang digali hikmah atau manfaatnya dari paragraf ini adalah ternyata wadahnya pun mengandung makna, apalagi isinya. Budaya gemar membaca tersebut membuat para pembaca atau pembelajar tersebut akan gemar membaca pula pada hal lain sehingga membudaya. Dan manfaat gemar membaca adalah akan membuat pikiran kita fokus dan melatih konsentrasi kita kata pakar kesehatan otak. Itulah manfaat dari budaya membaca.
Itulah beberapa manfaat dari kita menciduk hikmah dari arus pembelajaran matematika. Airnya begitu segar dan menyegarkan. Dapat pula menyuburkan kebun-kebun yang membutuhkan siraman air yang menyegarkan. Mudah-mudahan Alloh membuat kita semakin cerdas dalam mengambil manfaat dan ilmu dari setiap keadaan dan kejadian sehingga kita semakin mengenal-Nya dan semakin dekat dengan-Nya. Amin.
Rizal Ahmad
08301244039
Pendidikan Matematika Swadana 2008 UNY
BERFIKIR DAN MERASA
Senin, 20 Juni 2011
Kamis, 26 Mei 2011
Mahalnya Takut dan Harap
Oleh : Rizal Ahmad*
Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rosululloh saw. menjenguk seorang sahabat yang tengah menghadapi detik-detik kematiannya. Rosululloh saw. bertanya, “Apa yang sekarang tengah terbetik pada dirimu?”
Sahabat itu menjawab, “Wahai Rosululloh saw., saya saat ini penuh pengharapan kepada Alloh swt. dan merasa sangat takut dengan dosa-dosa yang telah saya lakukan.”
Mendengar jawaban sahabat itu Rosululloh saw. lalu bersabda, “Tidaklah berhimpun kedua perasaan ini di dalam hati seorang hamba pada kondisi seperti ini melainkan Alloh akan memberikan kepadanya apa yang diharapkannya itu serta menyelamatkannya dari apa yang dia takutkan”(Ibnu Maajah)
Sebagai manusia tentunya berdoa untuk dianugerahkan dan diistiqomahkan agar rasa takut dan harap itu berbarengan ada pada diri kita. Namun rasa itu sangat mahal harganya. Tidak mudah mendapatkannya. Karena rasa takut dan harap adalah kedua hal yang berbeda letak, yaitu di ujung busur yang berjauhan letak. Karena begitu sulitnya dicapai rasa ini kecuali orang-orang yang ikhlas lah yang berhak mendapatkannya. Setiap detiknya adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan spiritual yang tidak dapat dimiliki oleh selain dari orang yang dianugrahkan oleh Alloh kedua rasa itu. Setiap apa yang ia rasa adalah rasa itu pengaturnya, setiap apa yang ia pikir adalah rasa itu yang menjadi filternya, setiap apa yang ia lakukan adalah rasa itu sebagai kontrolnya. Penuh makna apa yang ia lakukan, penuh makna apa yang ia ucapkan, penuh makna apa yang ia rasakan.
Orang yang dianugerahkan rasa takut oleh Alloh akan berhati-hati dalam perbuatannya, ucapannya, dan besitan hatinya, karena ia takut dampak dari perbuatannya, ucapannya, dan besitan hatinya akan membuat Alloh tidak suka. Takut dengan seyakin yakinnya akan ancaman yang telah Alloh tetapkan.
Orang yang dianugerahkan rasa harap oleh Alloh akan senantiasa memiliki visi jauh ke depan, bukan hanya visi di dunia saja yang termasuk di dalamnya fitnah materi, wanita, tahta dll. Akan tetapi kehidupan setelah dunia, kehidupan yang pintu gerbangnya adalah kematian. Visinya adalah sebuah keabadian yang terbebas dari ruang dan waktu, sehingga ia kokoh, tak goyah dengan hal yang sepele. Setiap apa yang ia perbuat, ia ucapkan, ia rasakan adalah menjadi harapan akan mendapatkan rahmat, kasih saying, cinta dari Alloh swt.
Kedua penjelasan di atas adalah sebuah criteria, dampak, cirri khas dari nilai positif dari sebuah rasa takut dan harap. Namun rasa itu akan berbahaya jika tidak aktif berbarengan sejalan seimbang dalam diri manusia. Karena jika rasa takut itu berlebihan, akan berdampak pada keputusasaan pada rahmat dan ampunan Alloh, sedangkan ampunan dan rahmat Alloh itu sangat luas. Dan juga jika rasa harap yang berlebihan akan berdampak berbahaya bagi inangnya, yaitu merasa aman dari ancaman Alloh dan akan menganggap sepele, remeh temeh apa yang Alloh perintahkan dan Alloh larang. Sehingga apa yang ia perbuat, ucap, dan rasa tidak akan ia lakoni dengan serius dan penuh kekhusuan, tidak akan mendalam apa yang ia perbuat, ucap, dan rasa sehingga kenikmatan yang ia inginkan pun tidak akan ia dapat.
Jadi, takut dan harap harus berjalan seiringan, seimbang, dan konsisten agar kita dapat menikmati dampak dari rasa takut dan harap itu sehingga hidup kita insya Alloh berada dalam naungan cinta-Nya.
*mahasiswa pendidikan matematika swadana 2008 UNY
NIM : 08301244039
Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rosululloh saw. menjenguk seorang sahabat yang tengah menghadapi detik-detik kematiannya. Rosululloh saw. bertanya, “Apa yang sekarang tengah terbetik pada dirimu?”
Sahabat itu menjawab, “Wahai Rosululloh saw., saya saat ini penuh pengharapan kepada Alloh swt. dan merasa sangat takut dengan dosa-dosa yang telah saya lakukan.”
Mendengar jawaban sahabat itu Rosululloh saw. lalu bersabda, “Tidaklah berhimpun kedua perasaan ini di dalam hati seorang hamba pada kondisi seperti ini melainkan Alloh akan memberikan kepadanya apa yang diharapkannya itu serta menyelamatkannya dari apa yang dia takutkan”(Ibnu Maajah)
Sebagai manusia tentunya berdoa untuk dianugerahkan dan diistiqomahkan agar rasa takut dan harap itu berbarengan ada pada diri kita. Namun rasa itu sangat mahal harganya. Tidak mudah mendapatkannya. Karena rasa takut dan harap adalah kedua hal yang berbeda letak, yaitu di ujung busur yang berjauhan letak. Karena begitu sulitnya dicapai rasa ini kecuali orang-orang yang ikhlas lah yang berhak mendapatkannya. Setiap detiknya adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan spiritual yang tidak dapat dimiliki oleh selain dari orang yang dianugrahkan oleh Alloh kedua rasa itu. Setiap apa yang ia rasa adalah rasa itu pengaturnya, setiap apa yang ia pikir adalah rasa itu yang menjadi filternya, setiap apa yang ia lakukan adalah rasa itu sebagai kontrolnya. Penuh makna apa yang ia lakukan, penuh makna apa yang ia ucapkan, penuh makna apa yang ia rasakan.
Orang yang dianugerahkan rasa takut oleh Alloh akan berhati-hati dalam perbuatannya, ucapannya, dan besitan hatinya, karena ia takut dampak dari perbuatannya, ucapannya, dan besitan hatinya akan membuat Alloh tidak suka. Takut dengan seyakin yakinnya akan ancaman yang telah Alloh tetapkan.
Orang yang dianugerahkan rasa harap oleh Alloh akan senantiasa memiliki visi jauh ke depan, bukan hanya visi di dunia saja yang termasuk di dalamnya fitnah materi, wanita, tahta dll. Akan tetapi kehidupan setelah dunia, kehidupan yang pintu gerbangnya adalah kematian. Visinya adalah sebuah keabadian yang terbebas dari ruang dan waktu, sehingga ia kokoh, tak goyah dengan hal yang sepele. Setiap apa yang ia perbuat, ia ucapkan, ia rasakan adalah menjadi harapan akan mendapatkan rahmat, kasih saying, cinta dari Alloh swt.
Kedua penjelasan di atas adalah sebuah criteria, dampak, cirri khas dari nilai positif dari sebuah rasa takut dan harap. Namun rasa itu akan berbahaya jika tidak aktif berbarengan sejalan seimbang dalam diri manusia. Karena jika rasa takut itu berlebihan, akan berdampak pada keputusasaan pada rahmat dan ampunan Alloh, sedangkan ampunan dan rahmat Alloh itu sangat luas. Dan juga jika rasa harap yang berlebihan akan berdampak berbahaya bagi inangnya, yaitu merasa aman dari ancaman Alloh dan akan menganggap sepele, remeh temeh apa yang Alloh perintahkan dan Alloh larang. Sehingga apa yang ia perbuat, ucap, dan rasa tidak akan ia lakoni dengan serius dan penuh kekhusuan, tidak akan mendalam apa yang ia perbuat, ucap, dan rasa sehingga kenikmatan yang ia inginkan pun tidak akan ia dapat.
Jadi, takut dan harap harus berjalan seiringan, seimbang, dan konsisten agar kita dapat menikmati dampak dari rasa takut dan harap itu sehingga hidup kita insya Alloh berada dalam naungan cinta-Nya.
*mahasiswa pendidikan matematika swadana 2008 UNY
NIM : 08301244039
Kamis, 12 Mei 2011
‘ILMU MENCARI ‘ILMU
Oleh : Rizal Ahmad*
*Mahasiswa Pendidikan Matematika ’08 UNY
‘ilmu adalah keniscayaan ketika akan melakukan sesuatu. Ilmu merupakan pedoman sebelum melakukan sesuatu. Jika melakukan sesuatu tanpa ilmu, maka tersesatlah ia. Berbeda orang yang berilmu dan tidak. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujaadalah ayat 11 yang artinya “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.” Sehingga kita tidak akan ragu lagi bahwa kita harus menjadi orang yang memiliki ilmu, tentunya ilmu yang barokah, karena ilmu yang barokahlah yang akan menggiring kita menuju jalan yang benar. Percuma saja seseorang berilmu tapi ilmunya tidak barokah, tidak bermanfaat, malah akan mengantarkan pemilik ilmu itu menuju jurang kebinasaan.
Sabda Rosululloh SAW. : "Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah orang yang berilmu akan tetapi ilmunya tidak bermanfaat" (HR. Ahmad dan Baihaki)
Karena itu, kita perlu mengetahui apa ilmu yang berkah dan bagaimana cara mendapatkannya.
Berkah adalah ziadatul khoir, bertambahnya kebaikan. Ilmu dapat dikatakan berkah jika pemiliknya diberikan tambahan kebaikan-kebaikan oleh Alloh, terbukanya pintu-pintu kebaikan setelah ia mendapatkan ilmu, bukan malah menjadi sombong dengan ilmunya seperti yang kita dapati di zaman sekarang ini-mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya-, yaitu orang semakin pintar berpolitik maka semakin pintar juga ia menipu orang, berbanding terbaliknya antara gelar akademik dengan kebijaksanaan seseorang, ketawaduan sesorang, ketakukan ia kepada Sang Kholiq, dll. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28). Jadi kesimpulan saya, hakekat dari ilmu adalah rasa takut kepada Alloh. Sehingga dengan rasa itu ia akan takut juga dalam bermaksiat, takut juga jika tidak melaksanakan perintah-Nya, takut jika jauh dari-Nya, takut jika ia dipalingkan dari-Nya, sehingga ia selalu ingin dekat dengan Tuhannya, sehingga terbukalah pintu-pintu kebaikan yang lainnya kemudian itulah yang disebut dengan keberkahan, keberkahan dari ilmu yang dia miliki karena kerja keras usahanya, syukurnya dengan cara menggunakan apa yang telah diberikan-Nya seperti akalnya ia gunakan untuk senantiasa berpikir, dan tentunya atas Hidayah dan rahmat dari Alloh.
Setelah mengetahui hakikat ilmu, kegiatan selanjutnya adalah bagaimana cara kita memperoleh itu. Di bawah ini adalah kiat mencari ilmu menurut Imam As-Syafi’i :
lan tanal al-'ilm illa bi sittah:
(1) al-dhakiyy [kecerdasan]
(2) al-hirs [kemauan keras]
(3) al-sabr [kesabaran]
(4) al-dirham [biaya]
(5) suhbah al-asatidh [bimbingan guru]
(6) tul al-zaman [masa yang panjang]
Poin-poin diatas yang merupakan nasihat bijak dari Imam besar Imam Syafi’I, talah cukup membuat kita mengerti bagamaimana cara mendapatkan ilmu itu.
Penjelasan-penjelasan diatas menjadi dasar pembahasan selanjutnya yaitu tinjauan filsafat mengenai proses mencari ilmu. Penjelasan diatas harus menjadi dasar dahulu sebelum kita meninjau bagaimana filsafat berbicara dalam hal ini mengenai proses mendapatkan ilmu. Karena berbicara filsafat berarti kita berbicara akan sesuatu yang akan dipikirkan yang menuntut subjeknya memiliki keimanan yang kokoh, yang salah satunya dapat didapat dari memahami tinjauan agama tentang yang akan dibicarakan. Sehingga insya Alloh pembahasan itu tidak melenceng dari batasan-batasan yang telah ditentukan (factor ke-syar’i-annya).
Ontologynya ontology, yaitu hanya usaha manusia semampunya saja, tanpa dapat menemukan kebenarannya atau kesempurnaan definisi atau pemahamannya, hanya Tuhan Yang Tahu.
Ontologinya epistimologi, yaitu hakekat dari metodenya.
Ontologinya aksiologi, yaitu hakekat dari baik dan buruk.
Epistimologinya ontology, yaitu metode daripada menggali hakekat. Dalam Islam biasa disebut tarikat.
Epistimologinya epistimologi, yaitu kebenaran dari metode.
Epistimologinya aksiologi, yaitu metode untuk mengungkapkan baik buruk. Ini mengajarkan kita agar dapat mengkritik penguasa.
Aksiologinya ontology, yaitu baik buruknya dari hakekat.
Aksiologinya epistimologi, yaitu etika dan estetikanya dari cara, metode. Seninya dalam metode.
Aksiologinya aksiologi, yaitu baik buruknya tentang baik buruk, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik.
Sebuah contoh tinjauan filsafat dari hakekat khusu :
1. Ontology berkata bahwa hanya usahalah yang dapat dilakukan untuk menggapai khusu.
2. Epistimologi berkata bahwa harus menggunakan metode yang tepat yaitu sesuai Al-Qur’an dan Sunnah untuk menggapai itu.
3. Aksiologi berkata bahwa khusu tidak dapat diceritakan kepada orang lain.
Ini merupakan contoh suatu ontology didekati oleh ontology, epistimologi dan aksiologi.
Suatu ilmupun dapat didekati oleh ketiga pilar filsafat ini, yaitu :
1. Ontologinya ilmu adalah suatu rasa takut kepada Sang Kholiq.
2. Epistimologinya adalah metode menggapainya.
3. Aksiologinya adalah dampak dari ilmu terhadap pemiliknya, dapat mengetahui dan membedakan antara baik dan buruk.
Wallohu ‘alam. Mohon maaf jika terjadi kesalahan atau kekeliruan, ini bentuk usahaku dan salah satu batasan pikiranku.
*Mahasiswa Pendidikan Matematika ’08 UNY
‘ilmu adalah keniscayaan ketika akan melakukan sesuatu. Ilmu merupakan pedoman sebelum melakukan sesuatu. Jika melakukan sesuatu tanpa ilmu, maka tersesatlah ia. Berbeda orang yang berilmu dan tidak. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujaadalah ayat 11 yang artinya “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.” Sehingga kita tidak akan ragu lagi bahwa kita harus menjadi orang yang memiliki ilmu, tentunya ilmu yang barokah, karena ilmu yang barokahlah yang akan menggiring kita menuju jalan yang benar. Percuma saja seseorang berilmu tapi ilmunya tidak barokah, tidak bermanfaat, malah akan mengantarkan pemilik ilmu itu menuju jurang kebinasaan.
Sabda Rosululloh SAW. : "Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah orang yang berilmu akan tetapi ilmunya tidak bermanfaat" (HR. Ahmad dan Baihaki)
Karena itu, kita perlu mengetahui apa ilmu yang berkah dan bagaimana cara mendapatkannya.
Berkah adalah ziadatul khoir, bertambahnya kebaikan. Ilmu dapat dikatakan berkah jika pemiliknya diberikan tambahan kebaikan-kebaikan oleh Alloh, terbukanya pintu-pintu kebaikan setelah ia mendapatkan ilmu, bukan malah menjadi sombong dengan ilmunya seperti yang kita dapati di zaman sekarang ini-mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya-, yaitu orang semakin pintar berpolitik maka semakin pintar juga ia menipu orang, berbanding terbaliknya antara gelar akademik dengan kebijaksanaan seseorang, ketawaduan sesorang, ketakukan ia kepada Sang Kholiq, dll. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28). Jadi kesimpulan saya, hakekat dari ilmu adalah rasa takut kepada Alloh. Sehingga dengan rasa itu ia akan takut juga dalam bermaksiat, takut juga jika tidak melaksanakan perintah-Nya, takut jika jauh dari-Nya, takut jika ia dipalingkan dari-Nya, sehingga ia selalu ingin dekat dengan Tuhannya, sehingga terbukalah pintu-pintu kebaikan yang lainnya kemudian itulah yang disebut dengan keberkahan, keberkahan dari ilmu yang dia miliki karena kerja keras usahanya, syukurnya dengan cara menggunakan apa yang telah diberikan-Nya seperti akalnya ia gunakan untuk senantiasa berpikir, dan tentunya atas Hidayah dan rahmat dari Alloh.
Setelah mengetahui hakikat ilmu, kegiatan selanjutnya adalah bagaimana cara kita memperoleh itu. Di bawah ini adalah kiat mencari ilmu menurut Imam As-Syafi’i :
lan tanal al-'ilm illa bi sittah:
(1) al-dhakiyy [kecerdasan]
(2) al-hirs [kemauan keras]
(3) al-sabr [kesabaran]
(4) al-dirham [biaya]
(5) suhbah al-asatidh [bimbingan guru]
(6) tul al-zaman [masa yang panjang]
Poin-poin diatas yang merupakan nasihat bijak dari Imam besar Imam Syafi’I, talah cukup membuat kita mengerti bagamaimana cara mendapatkan ilmu itu.
Penjelasan-penjelasan diatas menjadi dasar pembahasan selanjutnya yaitu tinjauan filsafat mengenai proses mencari ilmu. Penjelasan diatas harus menjadi dasar dahulu sebelum kita meninjau bagaimana filsafat berbicara dalam hal ini mengenai proses mendapatkan ilmu. Karena berbicara filsafat berarti kita berbicara akan sesuatu yang akan dipikirkan yang menuntut subjeknya memiliki keimanan yang kokoh, yang salah satunya dapat didapat dari memahami tinjauan agama tentang yang akan dibicarakan. Sehingga insya Alloh pembahasan itu tidak melenceng dari batasan-batasan yang telah ditentukan (factor ke-syar’i-annya).
Ontologynya ontology, yaitu hanya usaha manusia semampunya saja, tanpa dapat menemukan kebenarannya atau kesempurnaan definisi atau pemahamannya, hanya Tuhan Yang Tahu.
Ontologinya epistimologi, yaitu hakekat dari metodenya.
Ontologinya aksiologi, yaitu hakekat dari baik dan buruk.
Epistimologinya ontology, yaitu metode daripada menggali hakekat. Dalam Islam biasa disebut tarikat.
Epistimologinya epistimologi, yaitu kebenaran dari metode.
Epistimologinya aksiologi, yaitu metode untuk mengungkapkan baik buruk. Ini mengajarkan kita agar dapat mengkritik penguasa.
Aksiologinya ontology, yaitu baik buruknya dari hakekat.
Aksiologinya epistimologi, yaitu etika dan estetikanya dari cara, metode. Seninya dalam metode.
Aksiologinya aksiologi, yaitu baik buruknya tentang baik buruk, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik.
Sebuah contoh tinjauan filsafat dari hakekat khusu :
1. Ontology berkata bahwa hanya usahalah yang dapat dilakukan untuk menggapai khusu.
2. Epistimologi berkata bahwa harus menggunakan metode yang tepat yaitu sesuai Al-Qur’an dan Sunnah untuk menggapai itu.
3. Aksiologi berkata bahwa khusu tidak dapat diceritakan kepada orang lain.
Ini merupakan contoh suatu ontology didekati oleh ontology, epistimologi dan aksiologi.
Suatu ilmupun dapat didekati oleh ketiga pilar filsafat ini, yaitu :
1. Ontologinya ilmu adalah suatu rasa takut kepada Sang Kholiq.
2. Epistimologinya adalah metode menggapainya.
3. Aksiologinya adalah dampak dari ilmu terhadap pemiliknya, dapat mengetahui dan membedakan antara baik dan buruk.
Wallohu ‘alam. Mohon maaf jika terjadi kesalahan atau kekeliruan, ini bentuk usahaku dan salah satu batasan pikiranku.
Rabu, 04 Mei 2011
RUANG INTROSPEKSI DIRI DALAM TANYA JAWAB FILSAFAT
OLEH : RIZAL AHMAD
Beberapa komentar berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai filsafat dari pembelajar filsafat matematika yaitu mahasiswa jurusan pendidikan matematika yang mengambil mata kuliah filsafat pendidikan matematika yang diajukan kepada DR. Marsigit selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut. Karena cengkraman ruang dan waktu, hanya beberapa pertanyaan dibahas dalam perkuliahan hari itu. Inilah beberapa bahasan yang terangkum dalam tulisan ini dan ditambah sedikit komentar dan bahasan dari saya yang niatnya adalah sebagai bumbu penyedap bahasan sekaligus sebagai momentum bagi saya dalam mengukur seberapa jauh pemahaman saya dalam memahami filsafat dalam perkuliahan itu sehingga menjadi bahan introspeksi saya.
Dimulai dengan bahasan yang cukup menarik, yaitu membicarakan tentang orang yang paling sexy. Orang yang paling sexy adalah orang yang paling berpengaruh dizamannya. Orang yang paling sexy dikaitkan dengan kekuasaan. Obama menurut Pak Marsigit adalah orang yang paling sexy karena ia adalah pemimpin tertinggi Negara yang mengatakan dirinya Negara adikuasa sehingga pengaruhnya, ucapannya, penampilannya, memiliki power yang besar bagi dunia.
Kemudian membahas incommensurability, yaitu mengukur dengan ukuran yang sama, adil. Contohnya adalah ketika kapasitas seorang guru yang tidak bisa disejajarkan dengan seorang murid, mobil dengan cc yang lebih tinggi tidak adil jika diadubalapkan dengan mobil yang cc-nya lebih kecil, dan banyak lagi contoh yang lainnya. Komentar saya disini adalah kita tidak boleh terjebak dengan kuantitas, seakan adil adalah sama dalam jumlah atau disebut kuantitas. Aspek kualitas pun perlu diperhatikan. apalagi zaman sekarang yang seakan terbolak-balik, antara mana yang benar dengan yang salah, adil dan yang tak adil seakan samar dan tak jelas. Orang jujur tertindas, orang tak jujur semakin tenar. Karena ada aspek fisik dan metafisik di alam dunia ini, maka kehati-hatian dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan alam dimana keadilan akan benar-benar tegak adalah alam akhirat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang telah ia kerjakan, ia usahakan, ia telah perbuat, ia telah lakukan. Tidak ada sesuatu sedikit pun yang akan dirugikan. Itulah hakekat keadilan.
Lalu menceritakan tentang pengaruh Hilbert dalam dunia matematika di Indonesia. Selain kebijakan yang berkaitan dengan Ujian Nasional yang merupakan bukti bahwa pengaruh Hilbert yang membawa konsep matematika murni ada contoh lainnya yaitu yang berkaitan dengan sistem matematika formal yang modern, seperti struktur-struktur geometri, aljabar, dll. yang digunakan di PT.
Kemudian berlanjut dengan membahas pertanyaan yang intinya adalah bagaimana mengimplementasikan landasan filsafat dalam pendidikan matematika. 3 pilar dalam filsafat itulah yang digunakan : ontology, epistimologi, dan aksiologi. Dengan menerapkan 3 pilar filsafat tersebut maka kita bisa mengetahui tingkatan kualitas. Kualitas yang berdimensi dapat dicapai atau diketahui kedalamannya dengan menerapkan 3 pilar filsafat tadi. Dengan mengetahui tingkat kedalaman kualitas, kita dapat menilai sejauh mana kualitas diri kita. Sudah berkualitaskah kita sebagai seorang manusia ciptaan-Nya yang tujuan diciptakan manusia tersebut tidak lain tidak bukan adalah untuk menjadi pengabdi dan kholifah di bumi. Sudah berapa besarkah pengabdian kita pada-Nya? Sudah seberapa adilkah kita menjadi seorang pemimpin dan sudah seberapa harmoniskah kita dengan alam? Dengan demikian, kita dapat menilai seberapa berkualitaskah kita?
`Hantu, hi…hi…hi… itulah bahasan selanjutnya. Salah seorang mahasiswa meminta pendapat dari Pak Marsigit tentang tema hantu di kelas RSBI yang ceritanya sudah dipostingkan sebelumnya di dalam blognya Pak Marsigit. Beliau menjelaskan bahwa setiap apa yang kita ucapkan adalah doa, setiap tindakan adalah doa. Termasuk mengambil tema hantu dalam kelas. Itu merupakan musibah dan perlu diruwat atau diterjemahkan atau dijelaskan.
Objek formal dan objek material, apa maksudnya? Objek formal adalah wadah dan objek material adalah isi. Itulah analogi yang mempermudah kita dalam memahami apa itu objek formal dan objek material. Kepala adalah wadah bagi isi dalam kepala, gelas adalah wadah dari mungkin air didalamnya, ruangan adalah wadah dari isi ruangan itu, research adalah wadah dari objek matematika.
Lalu tentang kebebasan berfikir. Apakah kita dapat bebas berfikir jika kita menggunakan referensi? Jawabannya adalah maksud dari kita hidup adalah menerjemahkan dan diterjemahkan, antara praktek dan teori. Teori adalah referensi untuk diterjemahkan menjadi praktek. Alloh pun tidak membiarkan manusia hidup bebar dan tidak diberi apa-apa. Apakah Alloh hanya memberikan manusia akal sebagai alat berfikir ini saja untuk dapat hidup dibumi? Tidak, kita diberikan referensi pokok yaitu kitab suci yaitu Al-Qur’an yang merupakan petunjuk agar kita selamat. Referensi pokok nan utama itu diterjemahkan (oleh orang-orang yang diberi kemudahan atas izin Alloh-bukan orang sembarangan-) menjadi sebuah gerak kerja dan praktek. Intropeksi bagi kita adalah apakah telah tepat kita dalam memposisikan Al-Qur’an sebagai referensi pokok bagi kita sesuai dengan kemuliaannya yaitu diposisi teratas dari referensi yang lain? Kadang kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca referensi dari manusia yang jelas kemungkinan kesalahannya dibandingkan membaca referensi pokok hidup kita yaitu Al-Qur’an?
Keterbatasanlah yang membuat tidak semua pembahasan dapat tercatat di dalam tulisan ini. Hanya sebagai bahan introspeksi bagi kita agar kita mulai mensyukuri nikmat yang telah dihadiahkan pada kita yaitu akal kita ini agar kita menggunakannya dengan optimal, berfikir dan terus berfikir, tapi jangan lupa merasa, karena bahwa setinggi-tinggi berfikir adalah refleksi diri, agar terang dalam hati.
Beberapa komentar berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai filsafat dari pembelajar filsafat matematika yaitu mahasiswa jurusan pendidikan matematika yang mengambil mata kuliah filsafat pendidikan matematika yang diajukan kepada DR. Marsigit selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut. Karena cengkraman ruang dan waktu, hanya beberapa pertanyaan dibahas dalam perkuliahan hari itu. Inilah beberapa bahasan yang terangkum dalam tulisan ini dan ditambah sedikit komentar dan bahasan dari saya yang niatnya adalah sebagai bumbu penyedap bahasan sekaligus sebagai momentum bagi saya dalam mengukur seberapa jauh pemahaman saya dalam memahami filsafat dalam perkuliahan itu sehingga menjadi bahan introspeksi saya.
Dimulai dengan bahasan yang cukup menarik, yaitu membicarakan tentang orang yang paling sexy. Orang yang paling sexy adalah orang yang paling berpengaruh dizamannya. Orang yang paling sexy dikaitkan dengan kekuasaan. Obama menurut Pak Marsigit adalah orang yang paling sexy karena ia adalah pemimpin tertinggi Negara yang mengatakan dirinya Negara adikuasa sehingga pengaruhnya, ucapannya, penampilannya, memiliki power yang besar bagi dunia.
Kemudian membahas incommensurability, yaitu mengukur dengan ukuran yang sama, adil. Contohnya adalah ketika kapasitas seorang guru yang tidak bisa disejajarkan dengan seorang murid, mobil dengan cc yang lebih tinggi tidak adil jika diadubalapkan dengan mobil yang cc-nya lebih kecil, dan banyak lagi contoh yang lainnya. Komentar saya disini adalah kita tidak boleh terjebak dengan kuantitas, seakan adil adalah sama dalam jumlah atau disebut kuantitas. Aspek kualitas pun perlu diperhatikan. apalagi zaman sekarang yang seakan terbolak-balik, antara mana yang benar dengan yang salah, adil dan yang tak adil seakan samar dan tak jelas. Orang jujur tertindas, orang tak jujur semakin tenar. Karena ada aspek fisik dan metafisik di alam dunia ini, maka kehati-hatian dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan alam dimana keadilan akan benar-benar tegak adalah alam akhirat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang telah ia kerjakan, ia usahakan, ia telah perbuat, ia telah lakukan. Tidak ada sesuatu sedikit pun yang akan dirugikan. Itulah hakekat keadilan.
Lalu menceritakan tentang pengaruh Hilbert dalam dunia matematika di Indonesia. Selain kebijakan yang berkaitan dengan Ujian Nasional yang merupakan bukti bahwa pengaruh Hilbert yang membawa konsep matematika murni ada contoh lainnya yaitu yang berkaitan dengan sistem matematika formal yang modern, seperti struktur-struktur geometri, aljabar, dll. yang digunakan di PT.
Kemudian berlanjut dengan membahas pertanyaan yang intinya adalah bagaimana mengimplementasikan landasan filsafat dalam pendidikan matematika. 3 pilar dalam filsafat itulah yang digunakan : ontology, epistimologi, dan aksiologi. Dengan menerapkan 3 pilar filsafat tersebut maka kita bisa mengetahui tingkatan kualitas. Kualitas yang berdimensi dapat dicapai atau diketahui kedalamannya dengan menerapkan 3 pilar filsafat tadi. Dengan mengetahui tingkat kedalaman kualitas, kita dapat menilai sejauh mana kualitas diri kita. Sudah berkualitaskah kita sebagai seorang manusia ciptaan-Nya yang tujuan diciptakan manusia tersebut tidak lain tidak bukan adalah untuk menjadi pengabdi dan kholifah di bumi. Sudah berapa besarkah pengabdian kita pada-Nya? Sudah seberapa adilkah kita menjadi seorang pemimpin dan sudah seberapa harmoniskah kita dengan alam? Dengan demikian, kita dapat menilai seberapa berkualitaskah kita?
`Hantu, hi…hi…hi… itulah bahasan selanjutnya. Salah seorang mahasiswa meminta pendapat dari Pak Marsigit tentang tema hantu di kelas RSBI yang ceritanya sudah dipostingkan sebelumnya di dalam blognya Pak Marsigit. Beliau menjelaskan bahwa setiap apa yang kita ucapkan adalah doa, setiap tindakan adalah doa. Termasuk mengambil tema hantu dalam kelas. Itu merupakan musibah dan perlu diruwat atau diterjemahkan atau dijelaskan.
Objek formal dan objek material, apa maksudnya? Objek formal adalah wadah dan objek material adalah isi. Itulah analogi yang mempermudah kita dalam memahami apa itu objek formal dan objek material. Kepala adalah wadah bagi isi dalam kepala, gelas adalah wadah dari mungkin air didalamnya, ruangan adalah wadah dari isi ruangan itu, research adalah wadah dari objek matematika.
Lalu tentang kebebasan berfikir. Apakah kita dapat bebas berfikir jika kita menggunakan referensi? Jawabannya adalah maksud dari kita hidup adalah menerjemahkan dan diterjemahkan, antara praktek dan teori. Teori adalah referensi untuk diterjemahkan menjadi praktek. Alloh pun tidak membiarkan manusia hidup bebar dan tidak diberi apa-apa. Apakah Alloh hanya memberikan manusia akal sebagai alat berfikir ini saja untuk dapat hidup dibumi? Tidak, kita diberikan referensi pokok yaitu kitab suci yaitu Al-Qur’an yang merupakan petunjuk agar kita selamat. Referensi pokok nan utama itu diterjemahkan (oleh orang-orang yang diberi kemudahan atas izin Alloh-bukan orang sembarangan-) menjadi sebuah gerak kerja dan praktek. Intropeksi bagi kita adalah apakah telah tepat kita dalam memposisikan Al-Qur’an sebagai referensi pokok bagi kita sesuai dengan kemuliaannya yaitu diposisi teratas dari referensi yang lain? Kadang kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca referensi dari manusia yang jelas kemungkinan kesalahannya dibandingkan membaca referensi pokok hidup kita yaitu Al-Qur’an?
Keterbatasanlah yang membuat tidak semua pembahasan dapat tercatat di dalam tulisan ini. Hanya sebagai bahan introspeksi bagi kita agar kita mulai mensyukuri nikmat yang telah dihadiahkan pada kita yaitu akal kita ini agar kita menggunakannya dengan optimal, berfikir dan terus berfikir, tapi jangan lupa merasa, karena bahwa setinggi-tinggi berfikir adalah refleksi diri, agar terang dalam hati.
Kamis, 28 April 2011
FILSAFAT MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA* OLEH : RIZAL AHMAD *RANGKUMAN PERKULIAHAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA TANGGAL 21 APRIL 2011
Yang tercatat sejarah, filsafat matematika dan pendidikan matematika muncul berawal di daerah Mesopotamia, Babilonia, China, India, dan Mesir kuno. Bermula dari melihat fenomena-fenomena alam, melihat indahnya ciptaan-ciptaan Alloh swt, lalu mulai memikirkannya. Bagaimana bisa terjadi seperti itu. Matahari muncul, menyinari hamparan bumi, gunung, pepohonan, pesawahan, dll., memberikan kehidupan, kehangatan pagi, kesegaran sore, lalu kemudian tenggelam. Dan fenomena itu berulang dan terus berulang, seperti pola hermenetika. Dari fenomena matahari saja kita bisa berfikir dan merasa bagaimana penciptaan Alloh yang begitu Agung nan seimbang, tidaklah ada yang tidak seimbang dan cacat dalam penciptaan-Nya. Itulah menurut saya fenomena yang menjadi awal para filsut berfilsafat.
Dari fenomena alam-fenomena alam yang ada, disana pun terdapat fenomena matematika. Dari pikiran para post-modern saja seperti kita saat ini, pasti dapat menalar, dari fenomena muncul dan tenggelamnya matahari saja, dapat dijadikan perhitungan matematikanya, yaitu menghitung waktu dalam sehari, lalu berkembang ke menghitung bulan atau menghitung tahun, lalu berkembang lagi sampai muncul kalender. Asumsi saya mereka pun mengklasifikasikan fenomena ini sebagai fenomena matematika. Dari fenomena menuju ke noumena, dan ada yang tetap dan ada yang berubah. Yang tetap adalah alirannya permenides dan yang berubah alirannya heraklitos.
Fenomena-fenomena yang muncul khususnya fenomena matematika, dibentuk dari solusi dari menerjemahkan fenomena-fenomena yang ada dalam bentuk matematikanya atau bagaimana cara matematikanya atau metode matematikanya sehingga memunculkan rumus matematikanya. Kemudian dapat disebut hermenetika, yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Menerjemahkan fenomena menjadi noumena, fenomena-fenomena yang diterjemahkan menjadi ide-ide.
Tetap, termasuk di dalamnya adalah hukum identitas, bersifat absolute, dan kebenarannya tunggal. Buktinya yang termasuk dalam kategori tetap adalah rumus Pythagoras. Sedangkan dalam bidang geometri ada geometrinya Euclides, yaitu geometri aksiomatik, serta geometri non euclides. Sedangkan yang berubah termasuk didalamnya adalah hukum kontradiktif, bersifat relative, dan plural.
Matematika Hilbert, Hilbert yang disebut sebagai bapak matematika murni, bersifat aksiomatik, formal, dan matematika perguruan tinggi. Hilbert ingin membangun matematika foundamentalism. Hilbert menggunakan definisi-difinisi, aksioma-aksioma, dll dalam membangun matematikanya, sehingga matematika menjadi tunggal, lengkap, dan konsisten. Dan teori-teori itu bersebrangan dengan Godel.
Di Indonesia, sampai saat ini, ilmu matematika masih didominasi oleh pemikiran-pemikiran Hilbert. Yaitu matematika aksiomatik, matematika logiscist, matematika murni, matematika formal, dan matematika perguruan tinggi. Bukti yang terasa saat ini adalah Ujian Nasional. Sehingga Bapak Marsigit, seorang tokoh filsafat pendidikan matematika menulis surat terbuka untuk presiden yang diposting di dalam blognya. Didalam blognya bliau memberikan kritik yang berkaitan dengan pembelajaran matematika di Indonesia dan memberikan solusi yang garis besarnya adalah tuntutan untuk diadakannya revolusi pendidikan.
Tingkatan pemahaman menurut filsafat dimulai dari fisik, skema, model dan abstrak atau formal. Contoh: diberikan persamaan 2x + 3y = 7. Fisik menjelaskan persamaan tersebut dengan memberikan benda kongkrit misal kumpulan mobil-mobil dan motor. Skema menjelaskan persamaan tersebut dengan mengelompokkannya. Model menjelaskan dengan membentuk modelnya. Sehingga muncullah rumus formalnya.
Dari fenomena alam-fenomena alam yang ada, disana pun terdapat fenomena matematika. Dari pikiran para post-modern saja seperti kita saat ini, pasti dapat menalar, dari fenomena muncul dan tenggelamnya matahari saja, dapat dijadikan perhitungan matematikanya, yaitu menghitung waktu dalam sehari, lalu berkembang ke menghitung bulan atau menghitung tahun, lalu berkembang lagi sampai muncul kalender. Asumsi saya mereka pun mengklasifikasikan fenomena ini sebagai fenomena matematika. Dari fenomena menuju ke noumena, dan ada yang tetap dan ada yang berubah. Yang tetap adalah alirannya permenides dan yang berubah alirannya heraklitos.
Fenomena-fenomena yang muncul khususnya fenomena matematika, dibentuk dari solusi dari menerjemahkan fenomena-fenomena yang ada dalam bentuk matematikanya atau bagaimana cara matematikanya atau metode matematikanya sehingga memunculkan rumus matematikanya. Kemudian dapat disebut hermenetika, yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Menerjemahkan fenomena menjadi noumena, fenomena-fenomena yang diterjemahkan menjadi ide-ide.
Tetap, termasuk di dalamnya adalah hukum identitas, bersifat absolute, dan kebenarannya tunggal. Buktinya yang termasuk dalam kategori tetap adalah rumus Pythagoras. Sedangkan dalam bidang geometri ada geometrinya Euclides, yaitu geometri aksiomatik, serta geometri non euclides. Sedangkan yang berubah termasuk didalamnya adalah hukum kontradiktif, bersifat relative, dan plural.
Matematika Hilbert, Hilbert yang disebut sebagai bapak matematika murni, bersifat aksiomatik, formal, dan matematika perguruan tinggi. Hilbert ingin membangun matematika foundamentalism. Hilbert menggunakan definisi-difinisi, aksioma-aksioma, dll dalam membangun matematikanya, sehingga matematika menjadi tunggal, lengkap, dan konsisten. Dan teori-teori itu bersebrangan dengan Godel.
Di Indonesia, sampai saat ini, ilmu matematika masih didominasi oleh pemikiran-pemikiran Hilbert. Yaitu matematika aksiomatik, matematika logiscist, matematika murni, matematika formal, dan matematika perguruan tinggi. Bukti yang terasa saat ini adalah Ujian Nasional. Sehingga Bapak Marsigit, seorang tokoh filsafat pendidikan matematika menulis surat terbuka untuk presiden yang diposting di dalam blognya. Didalam blognya bliau memberikan kritik yang berkaitan dengan pembelajaran matematika di Indonesia dan memberikan solusi yang garis besarnya adalah tuntutan untuk diadakannya revolusi pendidikan.
Tingkatan pemahaman menurut filsafat dimulai dari fisik, skema, model dan abstrak atau formal. Contoh: diberikan persamaan 2x + 3y = 7. Fisik menjelaskan persamaan tersebut dengan memberikan benda kongkrit misal kumpulan mobil-mobil dan motor. Skema menjelaskan persamaan tersebut dengan mengelompokkannya. Model menjelaskan dengan membentuk modelnya. Sehingga muncullah rumus formalnya.
Rabu, 13 April 2011
DUNIA DALAM PIKIRANKU
OLEH : RIZAL AHMAD
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)
Begitu tingginya kedudukan pikiran dalam dunia ini. Langit dan bumi yang merupakan ruang. Malam dan siang yang merupakan waktu. Itu akan menjadi tanda-tanda bagi orang yang menggunakan pikirannya. Abstraksi dari ruang dan waktu yang ada di luar pikiran, sehingga masuk dalam relung akal. Terjemahan dari sesuatu yang belum ada makna menjadi lebih bermakna. Sesuatu yang masih mitos, akan menjadi logos. Itu semua ketika kita bisa mengoptimalkan anugrah Alloh yang unik ini –karena hanya dimiliki oleh manusia saja – sehingga hidup kita dapat bermakna dan menemukan hakekat dari hidup itu sendiri. Hidup yang merupakan pengembaraan manusia menuju Dzat Pencipta Yang Maha Indah. Lepas dari ruang dan waktu. Luas dan kekal.
Dunia ini bergerak dalam ruang dan waktu. Tapi hakekatnya, dunia ini sedang memberontak dari ruang dan waktu. Bergerak, bergerak, bergerak menuju kemanakah ia? Apakah hanya berputar-putar saja sehingga hakekatnya adalah ia tidak bergerak karena tidaklah ada kemajuan ia dalam bergerak karena kembali lagi ke posisi semula? Bergerak kemanakah ia? Hahekatnya adalah bergerak melepaskan diri dari ruang dan waktu. Menerobos ruang dan waktu. Sehingga tidak ada lagi ia, ia bukan ruang dan ia tidak memberikan ruang kembali. Tidak ada lagi sekarang atau nanti semenjak itu, yang ada hanya kekekalan. Kecuali Yang Maha Berkehendak menghendaki lain.
Abstraksi, dikatakan alat yang paling ampuh untuk menerjemahkan dunia, karena dunia yang dikatakan tadi bergerak dalam ruang dan waktu. Alat apa itu? Bagaimanakah cara ia bekerja? Lalu apa manfaatnya bagi dunia? Bagi manusia? Alat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran. Pikiran yang dengan usahanya ia dapat menerjemahkan dunia, tapi hanya sebagian saja, perlu diingat bahwa manusia adalah terbatas, terbatas pun dalam pikirannya. Hati, ada elemen-elemen yang merupakan elemen hati, tapi bukan elemen pikiran, bahasa matematikanya. Ada elemen yang tidak bisa dijangkau pikiran, salah satunya adalah keyakinan.
Pikiran dan kenyataan. Di luar pikiran adalah sebagian kenyataan. Ada beberapa contoh hal yang nyata yang dapat diterjemahkan sehingga ia naik masuk dalam pikiran. Warna, warna-warna indah jika masuk dalam pikiran akan memunculkan persepsi-persepsi yang beragam bahkan seperti merupakan kesepakatan karena kelumrahannya. Misalnya merah, menandakan keberanian. Lalu masuk dalam symbol-simbol, baik sekup kecil, sampai besar, dari individu sampai Negara, dari lambing sampai bendera. Seluruhnya diusahakan memiliki filosofi tersendiri. Sesuatu yang diterjemahkan akan merubah mitos menjadi logos. Ia nyata, tapi memiliki makna. Pun sebaliknya, hal sederhana didalam pikiran diterjemahkan dalam kenyataan. Titik, dalam pikiran ia titik, diterjemahkan oleh pikiran itu sendiri menuju kenyataan menjadi bentuk-bentuk yang banyak. Dari titik menjadi garis, dari titik menjadi persegi, dari titik menjadi segi banyak, dari titik menjadi bangun ruang, dari titik menuju banyak bentuk bahkan pikiran pun tak mempu menjangkaunya.
Lalu bagaimana dengan kurva normal? Dengan data? Dengan adat istiadat? Adakah hubungannya? Ya, yaitu saling menerjemahkan. Penggunaan kata analog yang menjadi mediator antar pikiran dan kenyataan. Saling menerjemahkan seperti apa? Misal kurva normal, di dalam adat istiadat jawa, daerah yang ditengah adalah harapan dari sebagian besar warga jawa. Menginginkan dirinya normal, tidak jauh berbeda dengan orang lain. Ia tidak mau lebih dan tidak mau kurang. Bahagia kata mereka. Dari “berapa” menuju “apa”.
Lalu apa saja yang ada dalam pikiran? Himpunan pikiran meliputi a priori, kategori, transenden, logika sedangkan himpunan kenyataan adalah pasangan-pasangannya. Himpunan kenyataan itu berturut-turut adalah a posteiori, sintetik, material dan pengalaman.
Wallohu a’lam
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)
Begitu tingginya kedudukan pikiran dalam dunia ini. Langit dan bumi yang merupakan ruang. Malam dan siang yang merupakan waktu. Itu akan menjadi tanda-tanda bagi orang yang menggunakan pikirannya. Abstraksi dari ruang dan waktu yang ada di luar pikiran, sehingga masuk dalam relung akal. Terjemahan dari sesuatu yang belum ada makna menjadi lebih bermakna. Sesuatu yang masih mitos, akan menjadi logos. Itu semua ketika kita bisa mengoptimalkan anugrah Alloh yang unik ini –karena hanya dimiliki oleh manusia saja – sehingga hidup kita dapat bermakna dan menemukan hakekat dari hidup itu sendiri. Hidup yang merupakan pengembaraan manusia menuju Dzat Pencipta Yang Maha Indah. Lepas dari ruang dan waktu. Luas dan kekal.
Dunia ini bergerak dalam ruang dan waktu. Tapi hakekatnya, dunia ini sedang memberontak dari ruang dan waktu. Bergerak, bergerak, bergerak menuju kemanakah ia? Apakah hanya berputar-putar saja sehingga hakekatnya adalah ia tidak bergerak karena tidaklah ada kemajuan ia dalam bergerak karena kembali lagi ke posisi semula? Bergerak kemanakah ia? Hahekatnya adalah bergerak melepaskan diri dari ruang dan waktu. Menerobos ruang dan waktu. Sehingga tidak ada lagi ia, ia bukan ruang dan ia tidak memberikan ruang kembali. Tidak ada lagi sekarang atau nanti semenjak itu, yang ada hanya kekekalan. Kecuali Yang Maha Berkehendak menghendaki lain.
Abstraksi, dikatakan alat yang paling ampuh untuk menerjemahkan dunia, karena dunia yang dikatakan tadi bergerak dalam ruang dan waktu. Alat apa itu? Bagaimanakah cara ia bekerja? Lalu apa manfaatnya bagi dunia? Bagi manusia? Alat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran. Pikiran yang dengan usahanya ia dapat menerjemahkan dunia, tapi hanya sebagian saja, perlu diingat bahwa manusia adalah terbatas, terbatas pun dalam pikirannya. Hati, ada elemen-elemen yang merupakan elemen hati, tapi bukan elemen pikiran, bahasa matematikanya. Ada elemen yang tidak bisa dijangkau pikiran, salah satunya adalah keyakinan.
Pikiran dan kenyataan. Di luar pikiran adalah sebagian kenyataan. Ada beberapa contoh hal yang nyata yang dapat diterjemahkan sehingga ia naik masuk dalam pikiran. Warna, warna-warna indah jika masuk dalam pikiran akan memunculkan persepsi-persepsi yang beragam bahkan seperti merupakan kesepakatan karena kelumrahannya. Misalnya merah, menandakan keberanian. Lalu masuk dalam symbol-simbol, baik sekup kecil, sampai besar, dari individu sampai Negara, dari lambing sampai bendera. Seluruhnya diusahakan memiliki filosofi tersendiri. Sesuatu yang diterjemahkan akan merubah mitos menjadi logos. Ia nyata, tapi memiliki makna. Pun sebaliknya, hal sederhana didalam pikiran diterjemahkan dalam kenyataan. Titik, dalam pikiran ia titik, diterjemahkan oleh pikiran itu sendiri menuju kenyataan menjadi bentuk-bentuk yang banyak. Dari titik menjadi garis, dari titik menjadi persegi, dari titik menjadi segi banyak, dari titik menjadi bangun ruang, dari titik menuju banyak bentuk bahkan pikiran pun tak mempu menjangkaunya.
Lalu bagaimana dengan kurva normal? Dengan data? Dengan adat istiadat? Adakah hubungannya? Ya, yaitu saling menerjemahkan. Penggunaan kata analog yang menjadi mediator antar pikiran dan kenyataan. Saling menerjemahkan seperti apa? Misal kurva normal, di dalam adat istiadat jawa, daerah yang ditengah adalah harapan dari sebagian besar warga jawa. Menginginkan dirinya normal, tidak jauh berbeda dengan orang lain. Ia tidak mau lebih dan tidak mau kurang. Bahagia kata mereka. Dari “berapa” menuju “apa”.
Lalu apa saja yang ada dalam pikiran? Himpunan pikiran meliputi a priori, kategori, transenden, logika sedangkan himpunan kenyataan adalah pasangan-pasangannya. Himpunan kenyataan itu berturut-turut adalah a posteiori, sintetik, material dan pengalaman.
Wallohu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)