Yang tercatat sejarah, filsafat matematika dan pendidikan matematika muncul berawal di daerah Mesopotamia, Babilonia, China, India, dan Mesir kuno. Bermula dari melihat fenomena-fenomena alam, melihat indahnya ciptaan-ciptaan Alloh swt, lalu mulai memikirkannya. Bagaimana bisa terjadi seperti itu. Matahari muncul, menyinari hamparan bumi, gunung, pepohonan, pesawahan, dll., memberikan kehidupan, kehangatan pagi, kesegaran sore, lalu kemudian tenggelam. Dan fenomena itu berulang dan terus berulang, seperti pola hermenetika. Dari fenomena matahari saja kita bisa berfikir dan merasa bagaimana penciptaan Alloh yang begitu Agung nan seimbang, tidaklah ada yang tidak seimbang dan cacat dalam penciptaan-Nya. Itulah menurut saya fenomena yang menjadi awal para filsut berfilsafat.
Dari fenomena alam-fenomena alam yang ada, disana pun terdapat fenomena matematika. Dari pikiran para post-modern saja seperti kita saat ini, pasti dapat menalar, dari fenomena muncul dan tenggelamnya matahari saja, dapat dijadikan perhitungan matematikanya, yaitu menghitung waktu dalam sehari, lalu berkembang ke menghitung bulan atau menghitung tahun, lalu berkembang lagi sampai muncul kalender. Asumsi saya mereka pun mengklasifikasikan fenomena ini sebagai fenomena matematika. Dari fenomena menuju ke noumena, dan ada yang tetap dan ada yang berubah. Yang tetap adalah alirannya permenides dan yang berubah alirannya heraklitos.
Fenomena-fenomena yang muncul khususnya fenomena matematika, dibentuk dari solusi dari menerjemahkan fenomena-fenomena yang ada dalam bentuk matematikanya atau bagaimana cara matematikanya atau metode matematikanya sehingga memunculkan rumus matematikanya. Kemudian dapat disebut hermenetika, yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Menerjemahkan fenomena menjadi noumena, fenomena-fenomena yang diterjemahkan menjadi ide-ide.
Tetap, termasuk di dalamnya adalah hukum identitas, bersifat absolute, dan kebenarannya tunggal. Buktinya yang termasuk dalam kategori tetap adalah rumus Pythagoras. Sedangkan dalam bidang geometri ada geometrinya Euclides, yaitu geometri aksiomatik, serta geometri non euclides. Sedangkan yang berubah termasuk didalamnya adalah hukum kontradiktif, bersifat relative, dan plural.
Matematika Hilbert, Hilbert yang disebut sebagai bapak matematika murni, bersifat aksiomatik, formal, dan matematika perguruan tinggi. Hilbert ingin membangun matematika foundamentalism. Hilbert menggunakan definisi-difinisi, aksioma-aksioma, dll dalam membangun matematikanya, sehingga matematika menjadi tunggal, lengkap, dan konsisten. Dan teori-teori itu bersebrangan dengan Godel.
Di Indonesia, sampai saat ini, ilmu matematika masih didominasi oleh pemikiran-pemikiran Hilbert. Yaitu matematika aksiomatik, matematika logiscist, matematika murni, matematika formal, dan matematika perguruan tinggi. Bukti yang terasa saat ini adalah Ujian Nasional. Sehingga Bapak Marsigit, seorang tokoh filsafat pendidikan matematika menulis surat terbuka untuk presiden yang diposting di dalam blognya. Didalam blognya bliau memberikan kritik yang berkaitan dengan pembelajaran matematika di Indonesia dan memberikan solusi yang garis besarnya adalah tuntutan untuk diadakannya revolusi pendidikan.
Tingkatan pemahaman menurut filsafat dimulai dari fisik, skema, model dan abstrak atau formal. Contoh: diberikan persamaan 2x + 3y = 7. Fisik menjelaskan persamaan tersebut dengan memberikan benda kongkrit misal kumpulan mobil-mobil dan motor. Skema menjelaskan persamaan tersebut dengan mengelompokkannya. Model menjelaskan dengan membentuk modelnya. Sehingga muncullah rumus formalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar