Kamis, 26 Mei 2011

Mahalnya Takut dan Harap

Oleh : Rizal Ahmad*

Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rosululloh saw. menjenguk seorang sahabat yang tengah menghadapi detik-detik kematiannya. Rosululloh saw. bertanya, “Apa yang sekarang tengah terbetik pada dirimu?”
Sahabat itu menjawab, “Wahai Rosululloh saw., saya saat ini penuh pengharapan kepada Alloh swt. dan merasa sangat takut dengan dosa-dosa yang telah saya lakukan.”
Mendengar jawaban sahabat itu Rosululloh saw. lalu bersabda, “Tidaklah berhimpun kedua perasaan ini di dalam hati seorang hamba pada kondisi seperti ini melainkan Alloh akan memberikan kepadanya apa yang diharapkannya itu serta menyelamatkannya dari apa yang dia takutkan”(Ibnu Maajah)
Sebagai manusia tentunya berdoa untuk dianugerahkan dan diistiqomahkan agar rasa takut dan harap itu berbarengan ada pada diri kita. Namun rasa itu sangat mahal harganya. Tidak mudah mendapatkannya. Karena rasa takut dan harap adalah kedua hal yang berbeda letak, yaitu di ujung busur yang berjauhan letak. Karena begitu sulitnya dicapai rasa ini kecuali orang-orang yang ikhlas lah yang berhak mendapatkannya. Setiap detiknya adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan spiritual yang tidak dapat dimiliki oleh selain dari orang yang dianugrahkan oleh Alloh kedua rasa itu. Setiap apa yang ia rasa adalah rasa itu pengaturnya, setiap apa yang ia pikir adalah rasa itu yang menjadi filternya, setiap apa yang ia lakukan adalah rasa itu sebagai kontrolnya. Penuh makna apa yang ia lakukan, penuh makna apa yang ia ucapkan, penuh makna apa yang ia rasakan.
Orang yang dianugerahkan rasa takut oleh Alloh akan berhati-hati dalam perbuatannya, ucapannya, dan besitan hatinya, karena ia takut dampak dari perbuatannya, ucapannya, dan besitan hatinya akan membuat Alloh tidak suka. Takut dengan seyakin yakinnya akan ancaman yang telah Alloh tetapkan.
Orang yang dianugerahkan rasa harap oleh Alloh akan senantiasa memiliki visi jauh ke depan, bukan hanya visi di dunia saja yang termasuk di dalamnya fitnah materi, wanita, tahta dll. Akan tetapi kehidupan setelah dunia, kehidupan yang pintu gerbangnya adalah kematian. Visinya adalah sebuah keabadian yang terbebas dari ruang dan waktu, sehingga ia kokoh, tak goyah dengan hal yang sepele. Setiap apa yang ia perbuat, ia ucapkan, ia rasakan adalah menjadi harapan akan mendapatkan rahmat, kasih saying, cinta dari Alloh swt.
Kedua penjelasan di atas adalah sebuah criteria, dampak, cirri khas dari nilai positif dari sebuah rasa takut dan harap. Namun rasa itu akan berbahaya jika tidak aktif berbarengan sejalan seimbang dalam diri manusia. Karena jika rasa takut itu berlebihan, akan berdampak pada keputusasaan pada rahmat dan ampunan Alloh, sedangkan ampunan dan rahmat Alloh itu sangat luas. Dan juga jika rasa harap yang berlebihan akan berdampak berbahaya bagi inangnya, yaitu merasa aman dari ancaman Alloh dan akan menganggap sepele, remeh temeh apa yang Alloh perintahkan dan Alloh larang. Sehingga apa yang ia perbuat, ucap, dan rasa tidak akan ia lakoni dengan serius dan penuh kekhusuan, tidak akan mendalam apa yang ia perbuat, ucap, dan rasa sehingga kenikmatan yang ia inginkan pun tidak akan ia dapat.
Jadi, takut dan harap harus berjalan seiringan, seimbang, dan konsisten agar kita dapat menikmati dampak dari rasa takut dan harap itu sehingga hidup kita insya Alloh berada dalam naungan cinta-Nya.

*mahasiswa pendidikan matematika swadana 2008 UNY
NIM : 08301244039

Kamis, 12 Mei 2011

‘ILMU MENCARI ‘ILMU

Oleh : Rizal Ahmad*
*Mahasiswa Pendidikan Matematika ’08 UNY

‘ilmu adalah keniscayaan ketika akan melakukan sesuatu. Ilmu merupakan pedoman sebelum melakukan sesuatu. Jika melakukan sesuatu tanpa ilmu, maka tersesatlah ia. Berbeda orang yang berilmu dan tidak. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujaadalah ayat 11 yang artinya “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.” Sehingga kita tidak akan ragu lagi bahwa kita harus menjadi orang yang memiliki ilmu, tentunya ilmu yang barokah, karena ilmu yang barokahlah yang akan menggiring kita menuju jalan yang benar. Percuma saja seseorang berilmu tapi ilmunya tidak barokah, tidak bermanfaat, malah akan mengantarkan pemilik ilmu itu menuju jurang kebinasaan.
Sabda Rosululloh SAW. : "Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah orang yang berilmu akan tetapi ilmunya tidak bermanfaat" (HR. Ahmad dan Baihaki)
Karena itu, kita perlu mengetahui apa ilmu yang berkah dan bagaimana cara mendapatkannya.
Berkah adalah ziadatul khoir, bertambahnya kebaikan. Ilmu dapat dikatakan berkah jika pemiliknya diberikan tambahan kebaikan-kebaikan oleh Alloh, terbukanya pintu-pintu kebaikan setelah ia mendapatkan ilmu, bukan malah menjadi sombong dengan ilmunya seperti yang kita dapati di zaman sekarang ini-mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya-, yaitu orang semakin pintar berpolitik maka semakin pintar juga ia menipu orang, berbanding terbaliknya antara gelar akademik dengan kebijaksanaan seseorang, ketawaduan sesorang, ketakukan ia kepada Sang Kholiq, dll. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28). Jadi kesimpulan saya, hakekat dari ilmu adalah rasa takut kepada Alloh. Sehingga dengan rasa itu ia akan takut juga dalam bermaksiat, takut juga jika tidak melaksanakan perintah-Nya, takut jika jauh dari-Nya, takut jika ia dipalingkan dari-Nya, sehingga ia selalu ingin dekat dengan Tuhannya, sehingga terbukalah pintu-pintu kebaikan yang lainnya kemudian itulah yang disebut dengan keberkahan, keberkahan dari ilmu yang dia miliki karena kerja keras usahanya, syukurnya dengan cara menggunakan apa yang telah diberikan-Nya seperti akalnya ia gunakan untuk senantiasa berpikir, dan tentunya atas Hidayah dan rahmat dari Alloh.
Setelah mengetahui hakikat ilmu, kegiatan selanjutnya adalah bagaimana cara kita memperoleh itu. Di bawah ini adalah kiat mencari ilmu menurut Imam As-Syafi’i :
lan tanal al-'ilm illa bi sittah:
(1) al-dhakiyy [kecerdasan]
(2) al-hirs [kemauan keras]
(3) al-sabr [kesabaran]
(4) al-dirham [biaya]
(5) suhbah al-asatidh [bimbingan guru]
(6) tul al-zaman [masa yang panjang]
Poin-poin diatas yang merupakan nasihat bijak dari Imam besar Imam Syafi’I, talah cukup membuat kita mengerti bagamaimana cara mendapatkan ilmu itu.
Penjelasan-penjelasan diatas menjadi dasar pembahasan selanjutnya yaitu tinjauan filsafat mengenai proses mencari ilmu. Penjelasan diatas harus menjadi dasar dahulu sebelum kita meninjau bagaimana filsafat berbicara dalam hal ini mengenai proses mendapatkan ilmu. Karena berbicara filsafat berarti kita berbicara akan sesuatu yang akan dipikirkan yang menuntut subjeknya memiliki keimanan yang kokoh, yang salah satunya dapat didapat dari memahami tinjauan agama tentang yang akan dibicarakan. Sehingga insya Alloh pembahasan itu tidak melenceng dari batasan-batasan yang telah ditentukan (factor ke-syar’i-annya).
Ontologynya ontology, yaitu hanya usaha manusia semampunya saja, tanpa dapat menemukan kebenarannya atau kesempurnaan definisi atau pemahamannya, hanya Tuhan Yang Tahu.
Ontologinya epistimologi, yaitu hakekat dari metodenya.
Ontologinya aksiologi, yaitu hakekat dari baik dan buruk.
Epistimologinya ontology, yaitu metode daripada menggali hakekat. Dalam Islam biasa disebut tarikat.
Epistimologinya epistimologi, yaitu kebenaran dari metode.
Epistimologinya aksiologi, yaitu metode untuk mengungkapkan baik buruk. Ini mengajarkan kita agar dapat mengkritik penguasa.
Aksiologinya ontology, yaitu baik buruknya dari hakekat.
Aksiologinya epistimologi, yaitu etika dan estetikanya dari cara, metode. Seninya dalam metode.
Aksiologinya aksiologi, yaitu baik buruknya tentang baik buruk, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik.
Sebuah contoh tinjauan filsafat dari hakekat khusu :
1. Ontology berkata bahwa hanya usahalah yang dapat dilakukan untuk menggapai khusu.
2. Epistimologi berkata bahwa harus menggunakan metode yang tepat yaitu sesuai Al-Qur’an dan Sunnah untuk menggapai itu.
3. Aksiologi berkata bahwa khusu tidak dapat diceritakan kepada orang lain.
Ini merupakan contoh suatu ontology didekati oleh ontology, epistimologi dan aksiologi.
Suatu ilmupun dapat didekati oleh ketiga pilar filsafat ini, yaitu :
1. Ontologinya ilmu adalah suatu rasa takut kepada Sang Kholiq.
2. Epistimologinya adalah metode menggapainya.
3. Aksiologinya adalah dampak dari ilmu terhadap pemiliknya, dapat mengetahui dan membedakan antara baik dan buruk.
Wallohu ‘alam. Mohon maaf jika terjadi kesalahan atau kekeliruan, ini bentuk usahaku dan salah satu batasan pikiranku.

Rabu, 04 Mei 2011

RUANG INTROSPEKSI DIRI DALAM TANYA JAWAB FILSAFAT

OLEH : RIZAL AHMAD

Beberapa komentar berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai filsafat dari pembelajar filsafat matematika yaitu mahasiswa jurusan pendidikan matematika yang mengambil mata kuliah filsafat pendidikan matematika yang diajukan kepada DR. Marsigit selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut. Karena cengkraman ruang dan waktu, hanya beberapa pertanyaan dibahas dalam perkuliahan hari itu. Inilah beberapa bahasan yang terangkum dalam tulisan ini dan ditambah sedikit komentar dan bahasan dari saya yang niatnya adalah sebagai bumbu penyedap bahasan sekaligus sebagai momentum bagi saya dalam mengukur seberapa jauh pemahaman saya dalam memahami filsafat dalam perkuliahan itu sehingga menjadi bahan introspeksi saya.
Dimulai dengan bahasan yang cukup menarik, yaitu membicarakan tentang orang yang paling sexy. Orang yang paling sexy adalah orang yang paling berpengaruh dizamannya. Orang yang paling sexy dikaitkan dengan kekuasaan. Obama menurut Pak Marsigit adalah orang yang paling sexy karena ia adalah pemimpin tertinggi Negara yang mengatakan dirinya Negara adikuasa sehingga pengaruhnya, ucapannya, penampilannya, memiliki power yang besar bagi dunia.
Kemudian membahas incommensurability, yaitu mengukur dengan ukuran yang sama, adil. Contohnya adalah ketika kapasitas seorang guru yang tidak bisa disejajarkan dengan seorang murid, mobil dengan cc yang lebih tinggi tidak adil jika diadubalapkan dengan mobil yang cc-nya lebih kecil, dan banyak lagi contoh yang lainnya. Komentar saya disini adalah kita tidak boleh terjebak dengan kuantitas, seakan adil adalah sama dalam jumlah atau disebut kuantitas. Aspek kualitas pun perlu diperhatikan. apalagi zaman sekarang yang seakan terbolak-balik, antara mana yang benar dengan yang salah, adil dan yang tak adil seakan samar dan tak jelas. Orang jujur tertindas, orang tak jujur semakin tenar. Karena ada aspek fisik dan metafisik di alam dunia ini, maka kehati-hatian dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan alam dimana keadilan akan benar-benar tegak adalah alam akhirat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang telah ia kerjakan, ia usahakan, ia telah perbuat, ia telah lakukan. Tidak ada sesuatu sedikit pun yang akan dirugikan. Itulah hakekat keadilan.
Lalu menceritakan tentang pengaruh Hilbert dalam dunia matematika di Indonesia. Selain kebijakan yang berkaitan dengan Ujian Nasional yang merupakan bukti bahwa pengaruh Hilbert yang membawa konsep matematika murni ada contoh lainnya yaitu yang berkaitan dengan sistem matematika formal yang modern, seperti struktur-struktur geometri, aljabar, dll. yang digunakan di PT.
Kemudian berlanjut dengan membahas pertanyaan yang intinya adalah bagaimana mengimplementasikan landasan filsafat dalam pendidikan matematika. 3 pilar dalam filsafat itulah yang digunakan : ontology, epistimologi, dan aksiologi. Dengan menerapkan 3 pilar filsafat tersebut maka kita bisa mengetahui tingkatan kualitas. Kualitas yang berdimensi dapat dicapai atau diketahui kedalamannya dengan menerapkan 3 pilar filsafat tadi. Dengan mengetahui tingkat kedalaman kualitas, kita dapat menilai sejauh mana kualitas diri kita. Sudah berkualitaskah kita sebagai seorang manusia ciptaan-Nya yang tujuan diciptakan manusia tersebut tidak lain tidak bukan adalah untuk menjadi pengabdi dan kholifah di bumi. Sudah berapa besarkah pengabdian kita pada-Nya? Sudah seberapa adilkah kita menjadi seorang pemimpin dan sudah seberapa harmoniskah kita dengan alam? Dengan demikian, kita dapat menilai seberapa berkualitaskah kita?
`Hantu, hi…hi…hi… itulah bahasan selanjutnya. Salah seorang mahasiswa meminta pendapat dari Pak Marsigit tentang tema hantu di kelas RSBI yang ceritanya sudah dipostingkan sebelumnya di dalam blognya Pak Marsigit. Beliau menjelaskan bahwa setiap apa yang kita ucapkan adalah doa, setiap tindakan adalah doa. Termasuk mengambil tema hantu dalam kelas. Itu merupakan musibah dan perlu diruwat atau diterjemahkan atau dijelaskan.
Objek formal dan objek material, apa maksudnya? Objek formal adalah wadah dan objek material adalah isi. Itulah analogi yang mempermudah kita dalam memahami apa itu objek formal dan objek material. Kepala adalah wadah bagi isi dalam kepala, gelas adalah wadah dari mungkin air didalamnya, ruangan adalah wadah dari isi ruangan itu, research adalah wadah dari objek matematika.
Lalu tentang kebebasan berfikir. Apakah kita dapat bebas berfikir jika kita menggunakan referensi? Jawabannya adalah maksud dari kita hidup adalah menerjemahkan dan diterjemahkan, antara praktek dan teori. Teori adalah referensi untuk diterjemahkan menjadi praktek. Alloh pun tidak membiarkan manusia hidup bebar dan tidak diberi apa-apa. Apakah Alloh hanya memberikan manusia akal sebagai alat berfikir ini saja untuk dapat hidup dibumi? Tidak, kita diberikan referensi pokok yaitu kitab suci yaitu Al-Qur’an yang merupakan petunjuk agar kita selamat. Referensi pokok nan utama itu diterjemahkan (oleh orang-orang yang diberi kemudahan atas izin Alloh-bukan orang sembarangan-) menjadi sebuah gerak kerja dan praktek. Intropeksi bagi kita adalah apakah telah tepat kita dalam memposisikan Al-Qur’an sebagai referensi pokok bagi kita sesuai dengan kemuliaannya yaitu diposisi teratas dari referensi yang lain? Kadang kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca referensi dari manusia yang jelas kemungkinan kesalahannya dibandingkan membaca referensi pokok hidup kita yaitu Al-Qur’an?
Keterbatasanlah yang membuat tidak semua pembahasan dapat tercatat di dalam tulisan ini. Hanya sebagai bahan introspeksi bagi kita agar kita mulai mensyukuri nikmat yang telah dihadiahkan pada kita yaitu akal kita ini agar kita menggunakannya dengan optimal, berfikir dan terus berfikir, tapi jangan lupa merasa, karena bahwa setinggi-tinggi berfikir adalah refleksi diri, agar terang dalam hati.