Kamis, 12 Mei 2011

‘ILMU MENCARI ‘ILMU

Oleh : Rizal Ahmad*
*Mahasiswa Pendidikan Matematika ’08 UNY

‘ilmu adalah keniscayaan ketika akan melakukan sesuatu. Ilmu merupakan pedoman sebelum melakukan sesuatu. Jika melakukan sesuatu tanpa ilmu, maka tersesatlah ia. Berbeda orang yang berilmu dan tidak. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujaadalah ayat 11 yang artinya “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.” Sehingga kita tidak akan ragu lagi bahwa kita harus menjadi orang yang memiliki ilmu, tentunya ilmu yang barokah, karena ilmu yang barokahlah yang akan menggiring kita menuju jalan yang benar. Percuma saja seseorang berilmu tapi ilmunya tidak barokah, tidak bermanfaat, malah akan mengantarkan pemilik ilmu itu menuju jurang kebinasaan.
Sabda Rosululloh SAW. : "Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah orang yang berilmu akan tetapi ilmunya tidak bermanfaat" (HR. Ahmad dan Baihaki)
Karena itu, kita perlu mengetahui apa ilmu yang berkah dan bagaimana cara mendapatkannya.
Berkah adalah ziadatul khoir, bertambahnya kebaikan. Ilmu dapat dikatakan berkah jika pemiliknya diberikan tambahan kebaikan-kebaikan oleh Alloh, terbukanya pintu-pintu kebaikan setelah ia mendapatkan ilmu, bukan malah menjadi sombong dengan ilmunya seperti yang kita dapati di zaman sekarang ini-mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya-, yaitu orang semakin pintar berpolitik maka semakin pintar juga ia menipu orang, berbanding terbaliknya antara gelar akademik dengan kebijaksanaan seseorang, ketawaduan sesorang, ketakukan ia kepada Sang Kholiq, dll. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28). Jadi kesimpulan saya, hakekat dari ilmu adalah rasa takut kepada Alloh. Sehingga dengan rasa itu ia akan takut juga dalam bermaksiat, takut juga jika tidak melaksanakan perintah-Nya, takut jika jauh dari-Nya, takut jika ia dipalingkan dari-Nya, sehingga ia selalu ingin dekat dengan Tuhannya, sehingga terbukalah pintu-pintu kebaikan yang lainnya kemudian itulah yang disebut dengan keberkahan, keberkahan dari ilmu yang dia miliki karena kerja keras usahanya, syukurnya dengan cara menggunakan apa yang telah diberikan-Nya seperti akalnya ia gunakan untuk senantiasa berpikir, dan tentunya atas Hidayah dan rahmat dari Alloh.
Setelah mengetahui hakikat ilmu, kegiatan selanjutnya adalah bagaimana cara kita memperoleh itu. Di bawah ini adalah kiat mencari ilmu menurut Imam As-Syafi’i :
lan tanal al-'ilm illa bi sittah:
(1) al-dhakiyy [kecerdasan]
(2) al-hirs [kemauan keras]
(3) al-sabr [kesabaran]
(4) al-dirham [biaya]
(5) suhbah al-asatidh [bimbingan guru]
(6) tul al-zaman [masa yang panjang]
Poin-poin diatas yang merupakan nasihat bijak dari Imam besar Imam Syafi’I, talah cukup membuat kita mengerti bagamaimana cara mendapatkan ilmu itu.
Penjelasan-penjelasan diatas menjadi dasar pembahasan selanjutnya yaitu tinjauan filsafat mengenai proses mencari ilmu. Penjelasan diatas harus menjadi dasar dahulu sebelum kita meninjau bagaimana filsafat berbicara dalam hal ini mengenai proses mendapatkan ilmu. Karena berbicara filsafat berarti kita berbicara akan sesuatu yang akan dipikirkan yang menuntut subjeknya memiliki keimanan yang kokoh, yang salah satunya dapat didapat dari memahami tinjauan agama tentang yang akan dibicarakan. Sehingga insya Alloh pembahasan itu tidak melenceng dari batasan-batasan yang telah ditentukan (factor ke-syar’i-annya).
Ontologynya ontology, yaitu hanya usaha manusia semampunya saja, tanpa dapat menemukan kebenarannya atau kesempurnaan definisi atau pemahamannya, hanya Tuhan Yang Tahu.
Ontologinya epistimologi, yaitu hakekat dari metodenya.
Ontologinya aksiologi, yaitu hakekat dari baik dan buruk.
Epistimologinya ontology, yaitu metode daripada menggali hakekat. Dalam Islam biasa disebut tarikat.
Epistimologinya epistimologi, yaitu kebenaran dari metode.
Epistimologinya aksiologi, yaitu metode untuk mengungkapkan baik buruk. Ini mengajarkan kita agar dapat mengkritik penguasa.
Aksiologinya ontology, yaitu baik buruknya dari hakekat.
Aksiologinya epistimologi, yaitu etika dan estetikanya dari cara, metode. Seninya dalam metode.
Aksiologinya aksiologi, yaitu baik buruknya tentang baik buruk, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik.
Sebuah contoh tinjauan filsafat dari hakekat khusu :
1. Ontology berkata bahwa hanya usahalah yang dapat dilakukan untuk menggapai khusu.
2. Epistimologi berkata bahwa harus menggunakan metode yang tepat yaitu sesuai Al-Qur’an dan Sunnah untuk menggapai itu.
3. Aksiologi berkata bahwa khusu tidak dapat diceritakan kepada orang lain.
Ini merupakan contoh suatu ontology didekati oleh ontology, epistimologi dan aksiologi.
Suatu ilmupun dapat didekati oleh ketiga pilar filsafat ini, yaitu :
1. Ontologinya ilmu adalah suatu rasa takut kepada Sang Kholiq.
2. Epistimologinya adalah metode menggapainya.
3. Aksiologinya adalah dampak dari ilmu terhadap pemiliknya, dapat mengetahui dan membedakan antara baik dan buruk.
Wallohu ‘alam. Mohon maaf jika terjadi kesalahan atau kekeliruan, ini bentuk usahaku dan salah satu batasan pikiranku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar