Rabu, 04 Mei 2011

RUANG INTROSPEKSI DIRI DALAM TANYA JAWAB FILSAFAT

OLEH : RIZAL AHMAD

Beberapa komentar berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai filsafat dari pembelajar filsafat matematika yaitu mahasiswa jurusan pendidikan matematika yang mengambil mata kuliah filsafat pendidikan matematika yang diajukan kepada DR. Marsigit selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut. Karena cengkraman ruang dan waktu, hanya beberapa pertanyaan dibahas dalam perkuliahan hari itu. Inilah beberapa bahasan yang terangkum dalam tulisan ini dan ditambah sedikit komentar dan bahasan dari saya yang niatnya adalah sebagai bumbu penyedap bahasan sekaligus sebagai momentum bagi saya dalam mengukur seberapa jauh pemahaman saya dalam memahami filsafat dalam perkuliahan itu sehingga menjadi bahan introspeksi saya.
Dimulai dengan bahasan yang cukup menarik, yaitu membicarakan tentang orang yang paling sexy. Orang yang paling sexy adalah orang yang paling berpengaruh dizamannya. Orang yang paling sexy dikaitkan dengan kekuasaan. Obama menurut Pak Marsigit adalah orang yang paling sexy karena ia adalah pemimpin tertinggi Negara yang mengatakan dirinya Negara adikuasa sehingga pengaruhnya, ucapannya, penampilannya, memiliki power yang besar bagi dunia.
Kemudian membahas incommensurability, yaitu mengukur dengan ukuran yang sama, adil. Contohnya adalah ketika kapasitas seorang guru yang tidak bisa disejajarkan dengan seorang murid, mobil dengan cc yang lebih tinggi tidak adil jika diadubalapkan dengan mobil yang cc-nya lebih kecil, dan banyak lagi contoh yang lainnya. Komentar saya disini adalah kita tidak boleh terjebak dengan kuantitas, seakan adil adalah sama dalam jumlah atau disebut kuantitas. Aspek kualitas pun perlu diperhatikan. apalagi zaman sekarang yang seakan terbolak-balik, antara mana yang benar dengan yang salah, adil dan yang tak adil seakan samar dan tak jelas. Orang jujur tertindas, orang tak jujur semakin tenar. Karena ada aspek fisik dan metafisik di alam dunia ini, maka kehati-hatian dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan alam dimana keadilan akan benar-benar tegak adalah alam akhirat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang telah ia kerjakan, ia usahakan, ia telah perbuat, ia telah lakukan. Tidak ada sesuatu sedikit pun yang akan dirugikan. Itulah hakekat keadilan.
Lalu menceritakan tentang pengaruh Hilbert dalam dunia matematika di Indonesia. Selain kebijakan yang berkaitan dengan Ujian Nasional yang merupakan bukti bahwa pengaruh Hilbert yang membawa konsep matematika murni ada contoh lainnya yaitu yang berkaitan dengan sistem matematika formal yang modern, seperti struktur-struktur geometri, aljabar, dll. yang digunakan di PT.
Kemudian berlanjut dengan membahas pertanyaan yang intinya adalah bagaimana mengimplementasikan landasan filsafat dalam pendidikan matematika. 3 pilar dalam filsafat itulah yang digunakan : ontology, epistimologi, dan aksiologi. Dengan menerapkan 3 pilar filsafat tersebut maka kita bisa mengetahui tingkatan kualitas. Kualitas yang berdimensi dapat dicapai atau diketahui kedalamannya dengan menerapkan 3 pilar filsafat tadi. Dengan mengetahui tingkat kedalaman kualitas, kita dapat menilai sejauh mana kualitas diri kita. Sudah berkualitaskah kita sebagai seorang manusia ciptaan-Nya yang tujuan diciptakan manusia tersebut tidak lain tidak bukan adalah untuk menjadi pengabdi dan kholifah di bumi. Sudah berapa besarkah pengabdian kita pada-Nya? Sudah seberapa adilkah kita menjadi seorang pemimpin dan sudah seberapa harmoniskah kita dengan alam? Dengan demikian, kita dapat menilai seberapa berkualitaskah kita?
`Hantu, hi…hi…hi… itulah bahasan selanjutnya. Salah seorang mahasiswa meminta pendapat dari Pak Marsigit tentang tema hantu di kelas RSBI yang ceritanya sudah dipostingkan sebelumnya di dalam blognya Pak Marsigit. Beliau menjelaskan bahwa setiap apa yang kita ucapkan adalah doa, setiap tindakan adalah doa. Termasuk mengambil tema hantu dalam kelas. Itu merupakan musibah dan perlu diruwat atau diterjemahkan atau dijelaskan.
Objek formal dan objek material, apa maksudnya? Objek formal adalah wadah dan objek material adalah isi. Itulah analogi yang mempermudah kita dalam memahami apa itu objek formal dan objek material. Kepala adalah wadah bagi isi dalam kepala, gelas adalah wadah dari mungkin air didalamnya, ruangan adalah wadah dari isi ruangan itu, research adalah wadah dari objek matematika.
Lalu tentang kebebasan berfikir. Apakah kita dapat bebas berfikir jika kita menggunakan referensi? Jawabannya adalah maksud dari kita hidup adalah menerjemahkan dan diterjemahkan, antara praktek dan teori. Teori adalah referensi untuk diterjemahkan menjadi praktek. Alloh pun tidak membiarkan manusia hidup bebar dan tidak diberi apa-apa. Apakah Alloh hanya memberikan manusia akal sebagai alat berfikir ini saja untuk dapat hidup dibumi? Tidak, kita diberikan referensi pokok yaitu kitab suci yaitu Al-Qur’an yang merupakan petunjuk agar kita selamat. Referensi pokok nan utama itu diterjemahkan (oleh orang-orang yang diberi kemudahan atas izin Alloh-bukan orang sembarangan-) menjadi sebuah gerak kerja dan praktek. Intropeksi bagi kita adalah apakah telah tepat kita dalam memposisikan Al-Qur’an sebagai referensi pokok bagi kita sesuai dengan kemuliaannya yaitu diposisi teratas dari referensi yang lain? Kadang kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca referensi dari manusia yang jelas kemungkinan kesalahannya dibandingkan membaca referensi pokok hidup kita yaitu Al-Qur’an?
Keterbatasanlah yang membuat tidak semua pembahasan dapat tercatat di dalam tulisan ini. Hanya sebagai bahan introspeksi bagi kita agar kita mulai mensyukuri nikmat yang telah dihadiahkan pada kita yaitu akal kita ini agar kita menggunakannya dengan optimal, berfikir dan terus berfikir, tapi jangan lupa merasa, karena bahwa setinggi-tinggi berfikir adalah refleksi diri, agar terang dalam hati.

1 komentar: